Baca: Ayub 38 : 4 – 21 38:4 Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! 38:5 Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? –Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya? 38:6 Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya 38:7 pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai? 38:8 Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim? — 38:9 ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya; 38:10 ketika Aku menetapkan batasnya, dan memasang palang dan pintu; 38:11 ketika Aku berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan! 38:12 Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya 38:13 untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan dari padanya? 38:14 Bumi itu berubah seperti tanah liat yang dimeteraikan, segala sesuatu berwarna seperti kain. 38:15 Orang-orang fasik dirampas terangnya, dan dipatahkan lengan yang diacungkan. 38:16 Engkaukah yang turun sampai ke sumber laut, atau berjalan-jalan melalui dasar samudera raya? 38:17 Apakah pintu gerbang maut tersingkap bagimu, atau pernahkah engkau melihat pintu gerbang kelam pekat? 38:18 Apakah engkau mengerti luasnya bumi? Nyatakanlah, kalau engkau tahu semuanya itu. 38:19 Di manakah jalan ke tempat kediaman terang, dan di manakah tempat tinggal kegelapan, 38:20 sehingga engkau dapat mengantarnya ke daerahnya, dan mengetahui jalan-jalan ke rumahnya? 38:21 Tentu engkau mengenalnya, karena ketika itu engkau telah lahir, dan jumlah hari-harimu telah banyak!
Di manakah jalan ke tempat kediaman terang, dan di manakah tempat tinggal kegelapan? [ ] —Ayub 38:19
William Shatner pernah berperan sebagai Captain Kirk dalam serial televisi Star Trek, tetapi ketika benar-benar melakukan perjalanan ke ruang angkasa, ia begitu terkesima. Ia menyebut penerbangan ruang angkasa sub-orbital yang dijalaninya selama sebelas menit itu sebagai “pengalaman paling luar biasa yang bisa saya bayangkan.” Setelah melangkah keluar dari roketnya, dengan terkagum-kagum Shatner bercerita, “Sungguh menakjubkan, bagaimana saya melihat warna biru melintas di depan mata dan sesudah itu, hanya ada warna hitam yang pekat. Kalau saya melihat ke bawah, ada warna biru di sana, dan warna hitam di atasnya.” Ia menambahkan, “Warna birunya indah dan begitu tipis, lalu lewat begitu saja dengan cepat.”
Planet kita adalah sebuah titik biru yang dikelilingi kegelapan pekat. Bayangan itu sungguh membuat gentar. Shatner berkata bahwa terbang dari langit biru kepada kegelapan terasa seperti terbang memasuki alam maut. “Saya langsung merasa, ‘Wah, ini kematian!’ Itulah yang saya lihat. Pengalaman yang sangat menyentuh. Pengalaman yang luar biasa.”
Penerbangan Shatner yang menakjubkan itu membantu kita memandang hidup dengan perspektif yang benar. Kita hanyalah obyek kecil di alam semesta, tetapi kita dikasihi oleh Dia yang menciptakan terang dan yang memisahkannya dari gelap (Kej. 1:3-4). Bapa kita tahu di mana kegelapan tinggal dan jalan ke sana (Ayb. 38:19-20). Dia “meletakkan dasar bumi . . . pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai” (ay.4-7).
Marilah mempercayakan hidup kita yang kecil ini kepada Allah yang besar, yang memegang seluruh alam semesta di dalam tangan-Nya. —Mike Wittmer